PENGALAMAN BERKESAN
Cerita
itu dimulai sewaktu Aku masih duduk di bangku MTs, tepatnya kelas VII. Waktu
itu Aku baru memasuki awal-awal semester 2, lalu ada orang yang menawarkan
sekolah gratis sampai kuliah, nama beliau Hj. Diana. Beliau menawarkan sekolah
gratis tersebut bagi empat orang anak dan dua diantara empat anak tersebut
adalah Aku dan keponakanku. Orang suruhan beliau mengatakan kepada kami bahwa
kami akan di sekolahkan di sebuah pesantren di Kelayan A, namanya Pesantren
Al-Hikmah. Kami merasa sangat senang mendengar berita itu dan tentu saja kami
menerima tawaran tersebut. Orang-orang di kampungku pun mendengar berita itu,
ada yang setuju ada juga yang tidak, mereka yang tidak setuju berkata kepada
ibuku, “Enggak usah diterima, sayang anak satu-satunya dilepas. Kamu pasti
mampu menyekolahkan anakmu itu.” Ibuku tidak mau terlalu menanggapi komentar
mereka.
Hari
dimana kami berangkat pun tiba, kami berangkat bersama orangtua kami
menggunakan mobil Ibu Hj. Diana. Di tengah perjalanan, kami singgah di rumah
saudara beliau, di sana kami disuguhkan banyak makanan dan kami juga diberi
beberapa bingkisan. Lanjutlah perjalanan kami hingga akhirnya kami sampai di
tujuan. Di tempat tujuan, kami disambut baik oleh pengasuh pesantren tersebut.
Beliau sangat baik dan ramah, kami biasanya memanggil beliau dengan sebutan Kayi.
Beliau menjelaskan mengenai pesantren, beliau juga memperlihatkan asrama untuk
tempat tinggal kami. Di sana kami diberi fasilitas, seperti tv, makan 3 kali
sehari, dan bahkan pakaian kami pun dicucikan, kami hanya ditugaskan untuk
belajar dan belajar.
Setelah
beberapa hari bermalam, orangtua kami pun pergi. Aku sangat sedih dengan
kepulangan mereka karena, Aku sebelumnya tidak pernah pergi ataupun ditinggal
jauh oleh orangtuaku dalam waktu yang lama. Berbeda dengan keponakanku, dia
terlihat lebih tegar karena sudah terbiasa sejak kecil ditinggal orangtuanya.
Tiba
saatnya hari pertama kami belajar, kami mulai berkenalan dengan teman-teman
baru kami. Kami belajar selayaknya di sebuah pesantren dan itu menyenangkan.
Setiap waktu dzuhur tiba kami semua sholat berjamaah di Masjid, kemudian
melanjutkan pelajaran kami lagi. Pernah waktu itu ada orang yang meninggal
dunia dan akan disholatkan di Masjid tempat kami sholat biasanya, semua orang
di sana ikut menyolatkan jenazah tersebut dan aku pun ikut menyolatkan. Untuk
pertama kalinya aku menyolatkan jenazah orang, meskipun pada saat itu aku belum
tahu bacaan sholat jenazah, aku tetap turut serta mengikuti teman-temanku.
Setiap
malam hari, ketika hendak tidur biasanya aku menangis teringat orangtuaku. Aku
selalu teringat akan suasana rumah, teman-temanku semasa di MTs, itu selalu
membuatku ingin menangis. Ketika satu minggu sudah aku berdiam di sana,
orangtuaku menjengukku. Aku sangat bahagia dengan kedatangan mereka, timbul
hasrat di hatiku ingin ikut pulang bersama mereka. Tapi aku takut untuk
mengatakannya, aku takut mereka marah, aku benar-benar tidak berdaya. Sampai
pada akhirnya mereka pulang, aku benar-benar sedih dengan kepulangan mereka. Di
tengah perjalanan, aku menghubungi mereka lewat ponselku, sambil menangis
tersedu-sedu aku mengatakan bahwa aku ingin pulang, aku ingin ikut dengan
mereka. Terdengar seperti suara marah
mereka kepadaku, namun aku tetap menerimanya karena aku benar-benar
ingin pulang. Keesokan harinya, ibuku datang menjemputku dan kulihat ayahku
tidak ikut serta menjemputku. Hanya ada sepupuku yang menemani ibuku, ibuku
berkata bahwa ayahku tidak ikut menjemputku karena marah denganku. Kala itu aku
sangat takut, bagaimana jadinya ketika sampai di rumah nanti aku bertemu dengan
ayahku? Apakah dia akan sangat marah kepadaku? Terus terbayang-bayang dibenakku
tentang itu, tetapi aku berusaha untuk tetap tegar. Setelah bersiap-siap, kami pun pamit dengan
Kayi. Beliau dengan ramah mengatakan kepada ibuku, “Mungkin setelah satu minggu
pulang ke rumah, Norma akan kembali lagi ke sini.”, kata beliau. Lalu kami pun
pamit pulang.
Sesampainya
di rumah, aku dan ayahku tidak berteguran selama beberapa hari. Ayahku terlihat
sangat marah dengan keputusanku. Aku takut bertatap muka dengannya, namun
setelah beberapa hari berlalu akhirnya hubungan kami kembali baik seperti dulu.
Tidak lama setelah aku kembali, aku dan ibuku mendatangi sekolahku yang dulu
untuk meminta izin kepada Kepala Sekolah agar aku bisa sekolah di sana lagi,
awalnya beliau menolak untuk menerimaku kembali, karena beliau merasa telah
kecolongan anak murid. Tapi ibuku tidak menyerah, ibuku terus berusaha
meyakinkan Kepala Sekolah agar bisa menerimaku kembali dan akhirnya beliau pun
mau menerimaku kembali. Aku sangat bersyukur bisa diterima kembali di sana dan
aku langsung diperbolehkan beliau untuk mengikuti pelajaran. Ketika aku ingin
masuk ke kelas tiba-tiba guru Bahasa Inggrisku keluar dari kelas, “Murid kelas
sebelah ya?”, tanya beliau. Aku hanya terdiam, kemudian beliau pergi meninggalkanku.
Terlintas dalam benakku, ”Apakah beliau sudah lupa denganku? Padahal baru satu
minggu aku tidak ada.” Tapi aku tidak mau terlalu memikirkan hal itu. Setelah
itu, aku masuk ke dalam kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya dan hingga
akhirnya aku lulus.
Aku
melanjutkan pendidikanku ke bangku MA yaitu MAN 2 Kandangan. Aku memilih MA
karena di sana ilmu agamanya lebih banyak. Sedangkan keponakanku tetap
melanjutkan pendidikannya di pesantren tersebut hingga dia mampu menghapal
Al-Quran beberapa juz. Aku bangga kepadanya dan aku juga sempat merasa iri
dengannya, karena dia sudah hapal beberapa juz sedangkan aku satu juz pun
tidak. Timbul hasrat di hatiku untuk menjadi penghapal Al-Quran, aku pun mulai
bertanya kepada keponakanku bagaimana metode dia dalam menghapal A-Quran. Dia
menjelaskannya kepadaku, lalu aku mulai mengikutinya. Aku mulai hapal beberapa
surah di awal juz 30 atau yang sering kita sebut juz Amma. Tapi, karena
kesibukanku aku sering tidak memorajaah hapalanku sehingga dengan mudah aku
melupakan hapalanku.
Waktu terus berlalu
hingga akhirnya aku lulus, kemudian aku berniat melanjutkan pendidikanku ke
Perguruan Tinggi. Aku memilih ULM sebagai perguruan tinggi yang akan akan
kutuju, sedangkan keponakanku memilih IAIN Antasari. Tapi, keponakanku mendapat
tawaran kembali dari ibu Hj. Diana. Karena dia berprestasi, beliau menawarkan
kepada keponakanku kuliah di Malang yaitu UMM (Universitas Muhammadiyah Malang)
dan tentu saja dia mau. Sampai pada akhirnya kami diterima di Perguruan Tinggi masing-masing.
Aku memilih pendidikan Matematika sebagai pilihan pertamaku, namun takdir
berkata lain. Aku lulus di program studi pendidikan IPA, aku pun menerimanya
karena aku juga senang dengan pelajaran IPA, sedangkan keponakanku lulus di
keperawatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar