Rabu, 16 November 2016

Pengalaman, cerita dikit nih



PENGALAMAN BERKESAN

Cerita itu dimulai sewaktu Aku masih duduk di bangku MTs, tepatnya kelas VII. Waktu itu Aku baru memasuki awal-awal semester 2, lalu ada orang yang menawarkan sekolah gratis sampai kuliah, nama beliau Hj. Diana. Beliau menawarkan sekolah gratis tersebut bagi empat orang anak dan dua diantara empat anak tersebut adalah Aku dan keponakanku. Orang suruhan beliau mengatakan kepada kami bahwa kami akan di sekolahkan di sebuah pesantren di Kelayan A, namanya Pesantren Al-Hikmah. Kami merasa sangat senang mendengar berita itu dan tentu saja kami menerima tawaran tersebut. Orang-orang di kampungku pun mendengar berita itu, ada yang setuju ada juga yang tidak, mereka yang tidak setuju berkata kepada ibuku, “Enggak usah diterima, sayang anak satu-satunya dilepas. Kamu pasti mampu menyekolahkan anakmu itu.” Ibuku tidak mau terlalu menanggapi komentar mereka.
Hari dimana kami berangkat pun tiba, kami berangkat bersama orangtua kami menggunakan mobil Ibu Hj. Diana. Di tengah perjalanan, kami singgah di rumah saudara beliau, di sana kami disuguhkan banyak makanan dan kami juga diberi beberapa bingkisan. Lanjutlah perjalanan kami hingga akhirnya kami sampai di tujuan. Di tempat tujuan, kami disambut baik oleh pengasuh pesantren tersebut. Beliau sangat baik dan ramah, kami biasanya memanggil beliau dengan sebutan Kayi. Beliau menjelaskan mengenai pesantren, beliau juga memperlihatkan asrama untuk tempat tinggal kami. Di sana kami diberi fasilitas, seperti tv, makan 3 kali sehari, dan bahkan pakaian kami pun dicucikan, kami hanya ditugaskan untuk belajar dan belajar.
Setelah beberapa hari bermalam, orangtua kami pun pergi. Aku sangat sedih dengan kepulangan mereka karena, Aku sebelumnya tidak pernah pergi ataupun ditinggal jauh oleh orangtuaku dalam waktu yang lama. Berbeda dengan keponakanku, dia terlihat lebih tegar karena sudah terbiasa sejak kecil ditinggal orangtuanya.
Tiba saatnya hari pertama kami belajar, kami mulai berkenalan dengan teman-teman baru kami. Kami belajar selayaknya di sebuah pesantren dan itu menyenangkan. Setiap waktu dzuhur tiba kami semua sholat berjamaah di Masjid, kemudian melanjutkan pelajaran kami lagi. Pernah waktu itu ada orang yang meninggal dunia dan akan disholatkan di Masjid tempat kami sholat biasanya, semua orang di sana ikut menyolatkan jenazah tersebut dan aku pun ikut menyolatkan. Untuk pertama kalinya aku menyolatkan jenazah orang, meskipun pada saat itu aku belum tahu bacaan sholat jenazah, aku tetap turut serta mengikuti teman-temanku.
Setiap malam hari, ketika hendak tidur biasanya aku menangis teringat orangtuaku. Aku selalu teringat akan suasana rumah, teman-temanku semasa di MTs, itu selalu membuatku ingin menangis. Ketika satu minggu sudah aku berdiam di sana, orangtuaku menjengukku. Aku sangat bahagia dengan kedatangan mereka, timbul hasrat di hatiku ingin ikut pulang bersama mereka. Tapi aku takut untuk mengatakannya, aku takut mereka marah, aku benar-benar tidak berdaya. Sampai pada akhirnya mereka pulang, aku benar-benar sedih dengan kepulangan mereka. Di tengah perjalanan, aku menghubungi mereka lewat ponselku, sambil menangis tersedu-sedu aku mengatakan bahwa aku ingin pulang, aku ingin ikut dengan mereka. Terdengar seperti suara marah  mereka kepadaku, namun aku tetap menerimanya karena aku benar-benar ingin pulang. Keesokan harinya, ibuku datang menjemputku dan kulihat ayahku tidak ikut serta menjemputku. Hanya ada sepupuku yang menemani ibuku, ibuku berkata bahwa ayahku tidak ikut menjemputku karena marah denganku. Kala itu aku sangat takut, bagaimana jadinya ketika sampai di rumah nanti aku bertemu dengan ayahku? Apakah dia akan sangat marah kepadaku? Terus terbayang-bayang dibenakku tentang itu, tetapi aku berusaha untuk tetap tegar.  Setelah bersiap-siap, kami pun pamit dengan Kayi. Beliau dengan ramah mengatakan kepada ibuku, “Mungkin setelah satu minggu pulang ke rumah, Norma akan kembali lagi ke sini.”, kata beliau. Lalu kami pun pamit pulang.
Sesampainya di rumah, aku dan ayahku tidak berteguran selama beberapa hari. Ayahku terlihat sangat marah dengan keputusanku. Aku takut bertatap muka dengannya, namun setelah beberapa hari berlalu akhirnya hubungan kami kembali baik seperti dulu. Tidak lama setelah aku kembali, aku dan ibuku mendatangi sekolahku yang dulu untuk meminta izin kepada Kepala Sekolah agar aku bisa sekolah di sana lagi, awalnya beliau menolak untuk menerimaku kembali, karena beliau merasa telah kecolongan anak murid. Tapi ibuku tidak menyerah, ibuku terus berusaha meyakinkan Kepala Sekolah agar bisa menerimaku kembali dan akhirnya beliau pun mau menerimaku kembali. Aku sangat bersyukur bisa diterima kembali di sana dan aku langsung diperbolehkan beliau untuk mengikuti pelajaran. Ketika aku ingin masuk ke kelas tiba-tiba guru Bahasa Inggrisku keluar dari kelas, “Murid kelas sebelah ya?”, tanya beliau. Aku hanya terdiam, kemudian beliau pergi meninggalkanku. Terlintas dalam benakku, ”Apakah beliau sudah lupa denganku? Padahal baru satu minggu aku tidak ada.” Tapi aku tidak mau terlalu memikirkan hal itu. Setelah itu, aku masuk ke dalam kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya dan hingga akhirnya aku lulus.
Aku melanjutkan pendidikanku ke bangku MA yaitu MAN 2 Kandangan. Aku memilih MA karena di sana ilmu agamanya lebih banyak. Sedangkan keponakanku tetap melanjutkan pendidikannya di pesantren tersebut hingga dia mampu menghapal Al-Quran beberapa juz. Aku bangga kepadanya dan aku juga sempat merasa iri dengannya, karena dia sudah hapal beberapa juz sedangkan aku satu juz pun tidak. Timbul hasrat di hatiku untuk menjadi penghapal Al-Quran, aku pun mulai bertanya kepada keponakanku bagaimana metode dia dalam menghapal A-Quran. Dia menjelaskannya kepadaku, lalu aku mulai mengikutinya. Aku mulai hapal beberapa surah di awal juz 30 atau yang sering kita sebut juz Amma. Tapi, karena kesibukanku aku sering tidak memorajaah hapalanku sehingga dengan mudah aku melupakan hapalanku.
Waktu terus berlalu hingga akhirnya aku lulus, kemudian aku berniat melanjutkan pendidikanku ke Perguruan Tinggi. Aku memilih ULM sebagai perguruan tinggi yang akan akan kutuju, sedangkan keponakanku memilih IAIN Antasari. Tapi, keponakanku mendapat tawaran kembali dari ibu Hj. Diana. Karena dia berprestasi, beliau menawarkan kepada keponakanku kuliah di Malang yaitu UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) dan tentu saja dia mau. Sampai pada akhirnya kami diterima di Perguruan Tinggi masing-masing. Aku memilih pendidikan Matematika sebagai pilihan pertamaku, namun takdir berkata lain. Aku lulus di program studi pendidikan IPA, aku pun menerimanya karena aku juga senang dengan pelajaran IPA, sedangkan keponakanku lulus di keperawatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar